Irma1985

Banyak Hal Dapat di ambil Manfaatnya termasuk Blog ini

Catatan Dokter Arinka (sebuah cerpen)

pada 24 Februari 2012

 

Hari Senin, 11 November 2010

Sekarang yang kurasakan hanyalah sedikit kehampaan. Ya tentu saja karena waktu efektif untuk menjaga keharmonisan hubungan suami-istri, telah tercerabut hanya karena pekerjaan yang menumpuk. Siang sesudah pulang dari Rumah Sakit,tak ada lagi suasana ramah menyapaku dirumah. Suamiku kini sudah jarang sekali makan bersama di rumah. Entah sibuk atau bagaimana. Aku lebih sering berurusan dengan pasien-pasienku, makan sendiri, membaca jurnal kedokteran sebelum tidur, lalu terlelap. Aku dan suamiku tak ada waktu lagi untuk mengobrol santai dan minum teh di teras rumah kami yang sejuk. Namaku Arin. Usia 28 tahun, dan sudah sampai pada step tertinggi ukuran seorang manusia di muka bumi, pekerjaanku mantap, aku seorang PNS di rumah sakit milik pemerintah yang cukup terpandang reputasinya, menikah, memiliki rumah dan kendaraan pribadi, serta tentu saja yang tak kalah penting, suami yang baik. Hanya saja setelah hampir 4 tahun kami menikah, belum ada tanda-tanda aku hamil. Beberapa rekan sesama dokter menyuruhku mengecek ke dokter spesialis kandungan yang dulu menjadi dosen kami saat menimba ilmu kedokteran. Menurut dokter, tak ada yang salah denganku ataupun suamiku. Mungkin butuh lebih banyak waktu untuk kami berusaha dan berdoa, atau mungkin memang belum dipercaya olehNya. Suamiku seorang karyawan swasta. Usianya terpaut 3 tahun lebih tua dari usiaku, kami adalah korban mak comblang teman kuliahku dulu. Setelah merasakan chemistry saat mengobrol, beberapa kali jalan bersama, akhirnya kami memutuskan untuk berpacaran. Setelah aku lulus dan menjadi dokter, kamipun menikah. Mas Fadil orang yang sangat lucu dan jujur. Dia adalah suami idealku, tampan,baik dan humoris. Aku sangat mencintainya begitupula dirinya. Bersama-sama kami mendayung bahtera rumah tangga ini.

Kesibukan Mas Fadil makin bertambah sekarang. Dia diangkat untuk menjadi manajer di perusahaan  tempatnya bekerja. Ada senang ada sedihnya juga.  senang karena prestasi pencapaian suamiku hampir menuju ke posisi idamannya, sedih karena waktu kebersamaan kami tercerabut. Seperti yang kini kurasakan, makan siangku terasa hambar karena tak ada bercandaan yang selalu dilontarkan Mas Fadil. Aku merindukannya.Mas, aku kangen kamu..

“ Selamat sore istriku sayang..” meskipun tidur siangku terganggu, tapi aku senang sekali terbangun oleh suara merdunya.

“Sore mas..hoaamm”kataku

“Masih ngantuk ya sayang?bobo lagi aja kalau masih ngantuk”kata suamiku sambil tersenyum. Manis sekali

“Ngga kok. Udah ga ngantuk mas”kataku sambil bangun

Segera kuambilkan minum untuknya. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 16.00 wib.

“Tumben pulang cepat mas?”kataku

“Ada tugas dinas nih nda. aku mau ke Bandung malam ini”katanya sambil memandangku dengan wajahnya yang lelah

Ada sebersit kekecewaan dalam hatiku, aku fikir dia akan membuat surprise di hari ulang tahunku. Yang membuatku semakin sedih mengetahui bahwa Mas Fadil lupa kalau hari ini hari aku ulang tahun. aku hanya menarik nafas panjang.

“Kenapa?kok wajahnya merenggut gitu sih bunda sayang?”tanya Mas Fadil lagi

“Hehehe..enggak kok.yasudah aku siapkan baju-baju Mas ya”kataku menyembunyikan kekecewaan

Setelah menyiapkan beberapa pakaian, segera kusiapkan makanan untuk makan malam kami. Meski aku sibuk, tapi aku selalu mengerjakan pekerjaan rumah. Tak ada pembantu di rumah kami. Makan malam kali ini sungguh menyenangkan. Selepas makan, mas fadil sempat memberiku jokes yang lucu-lucu, sehingga kami berdua tertawa begitu lepas.

“kamu dinas malam ya sayang?”kata mas fadil, saat aku mulai memasukkan pakaian dinas, handuk, serta perlengkapan mandiku kedalam tas. Sebagai dokter jaga di IGD, aku kebagian piket pagi sore malam.

“iya mas..kenapa?”

“hmm..ga apa-apa bunda”kata mas fadil sambil memeluk pinggangku dengan erat. Mungkin dia juga merasakan rasa rindu yang sama.

Selepas kepergian mas fadil, aku segera berangkat menuju rumah sakit.

Pukul 23.11

Saat kulihat jam di ruang IGD selintas setelah selesai membaca buku operasi sekaligus mengobservasi pasien malam ini. Aku kemudian masuk ke ruangn perawat. Aku baru saja akan merebahkan diri di ranjang, Pegal sekali kaki ini, padahal hanya 2 jam aku bekerja.  Handphoneku bordering, sebelum kuangkat tiba-tiba Wini, salah satu perawat, memberitahuku ada pasien baru datang. Sedikit menimbang untuk mengangkat telepon atau segera pergi, aku memilih pilihan kedua.

“ gimana sid?”tanyaku pada perawat yang sedang menganalisis pasien. Ada 3 pasien, seorang pria, wanita dan anak kecil. Sekitar 5 tahun. Tebakanku mereka satu keluarga.

“dok, sepertinya ini KLL ( kecelakaan lalu lintas), satu head injury (cedera kepala) berat dan sepertinya ada fraktur pada ibu ini dok”

“anaknya?”tanyaku

“hanya luka ringan nampaknya”

“oke, kita cek semua, bawa pasien masuk ke ruangan A. observasi tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, pasangkan oksigen segera.” aku memebri instrusi

“wini, kamu bawa infuset dewasa 2, anak 1, dan cairan RL” setelah infuse dan oksigen pada masing-masing terpasang. aku memeriksa keadaan pasienku satu persatu. Si bapak, yang belakangan kutau bernama Winarno, 38 tahun, sekarang koma,hipotesis sementara mungkin cedera kepala berat akibat terjatuh dan menabrak tembok pembatas jalan, karena helmnya tidak dikaitkan dengan baik, maka helm itu terlempar entah kemana. Setidaknya itu yang dikatakan saksi dan keluarga yang mengantarnya. Yang wanita kutau namanya Rahma, usia 30 tahiun, nampak mulai siuman dari pingsannya dan mulai meringis karena tungkai tangan kanannya sakit. Mungkin ada fraktur (patah) tapi harus di rontgen dulu untuk bisa menegakkan hipotesisi itu. Si ibu tidak mengeluh ingin muntah atau pusing. Syukurlah, berarti tidak ada masalah dengan kepalanya. Terakhir si anak yang bernama Rifki, dengan usia yang mungkin belum genap 5 tahun, menangis perlahan. Mungkin perih karena tangannya dipasang infuse. Dia menatapku.

“ sayang, sakit ya..”kataku. dia menangguk.

“kepalanya sakit ngga sayang?pengen muntah ngga?”tanyaku lagi. Dan aku sangat lega ketika si anak mebggeleng lemah. Aku mebgusap-usap tangan dan  kepalanya sebentar. Siapa yang telah melukai pasienku. Aku harus keluar dan mulai mencari tau. Aku akhirnya meminta keluarga pasien untuk menunjukkan siapa penabrak keluarga mereka.

Aku menatap wajahnya yang nampak muram dan letih. Pasti dia begitu stress. Hingga tak ada yang dilakukannya selain tertunduk lemah di ruang tunggu pasien. Saat aku dan kelurga pasien mendekat, dia menaikkan wajahnya untuk menatapku. Tatapannya sendu sekali. Ya Tuhan.

“mas Fadil” kataku pelan

“dokter kenal dengan orang yang menabrak keluarga saya?’tanya si ibu, yang entah siapa namanya. Nada suaranya terdengar kaget namun sinis.

“sangat kenal bu, ini suami saya”kataku dengan suara yang bergetar

“bagus kalau begitu, urusan tabrakan ini akan menjadi sangat gambling sekarang, bila tak ingin urusan dengan kepolisian, maka saya harap ibu dan bapak..”

“bu, saya akan bertanggung jawab.”potong suamiku

“mohon sebentar tinggalkan kami untuk berbicara?”tanya suamiku

Si ibu akhirnya meninggalkan kami berdua. Tidak ada kata-kata dianata kami. Aku tak tau harus bilang apa. Aku terlalu shock. Tapi tentu saja suamiku lebih terpukul lagi. Segera kupegang tangannya yang dingin. Aku terseyum hangat padanya. Akhirnya kami menangis sambil berpelukan.suamiku menceritakan detail kecelakaannya, tempat kejadiannya tidak terlalu jauh dengan rumah sakit ini. Suamiku ingin memberiku surprise di hari ulang tahun. Sengaja dia berbohong bahwa ada tugas dinas ke luar kota, padahal dia keliling Jakarta mencari hadiah untukku. Saat akan menyebrang menuju ke rumah sakit ini, tiba-tiba ada motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Suamiku tak tau, karena motor itu tak berlampu. Begitu tau ada motor, cepat-cepat suamiku menge-rem. Namun terlambat, motor itu sudah jatuh terjungkal ban depan mobil. Aku mendengar dengan sekasama, sambil berkali-kali menghapus air mata putus asa nya. Aku menerima kado yang dibungkus rapi berwarna pink. Ingin aku melihat isinya, alih-alih aku hanya tersenyum pada suamiku. Kami tau bahwa masalah ini takkan berhenti sampai disini. Meskipun sebenarnya motorlah yang salah karena tidak menyalakan lampu, di mata hukum, kendaraan yang lebih besarlah yang selalu disalahkan.

“Syukurlah ibu sudah siuman”kataku pada Bu Rahma yang mengerjap-mengerjapkan matanya.

“Mana suami dan anak saya dokter?”tanya nya seperti orang bingung

“Mereka aman bu, bapak sudah di masukan ke ICU, dan putra ibu sekarang sudah tidur, di ruangan sebelah”kataku menjelaskan. Bu rahma merenung sejenak, sibuk mengingat-ingat apa yang terjadi padanya semalam

“tapi suami saya sudah sadar kan dok?”tanya nya lagi. Aku menggeleng lemah. Bu rahma mulai terisak

“bapak masih koma bu, cedera di kepalanya sangat berat. Ibu berdoa saja ya agar bapak cepat sembuh”kataku menghibur

“saya mau ketemu suami saya dokter”kata bu rahma sambil menangis

“iya, boleh. Tapi nanti. Setelah ibu sudah enakan. Tungkai tangan kanan ibu juga terluka. Saya takut ada patah. Ibu sekarang istrirahat ya. Ini masih malam.”

“besok kalau ibu sudah segar dan sehat, ibu bisa menengok bapak dan putra ibu”tambahku

“terimakasih dokter, dokter sungguh baik hati”bu rahma tersenyum. Aku membalas senyumnya. Entah nanti bu rahma akan tetap tersenyum atau tidak kalau tau suamiku yang telah menabrak motor yang mereka tumpangi.

Perlahan-lahan kututup pintu ruangan perawatan bu rahma. Mereka masih di rawat di IGD. Kecuali pak Winarno tentunya. Sambil menatap bintang, aku kembali berdoa. Ya Allah, jangan Kau timpakan pada kami ujian yang takkan sanggup kami memikulnya. Suamiku sudah tertidur di kursi ruang tunggu IGD. Aku membangunkannya dan menyuruhnya pindah. Di ruang perawat, kami tidur berdua diatas ranjang yang sesungguhnya sangat sempit. Akun bergulung padanya dengan perasaan yang hangat dan nyaman. Suamiku menatap lalu mengecup dahiku pelan.

“ Bunda, kalau sampai pak winarno meninggal, gimana ya?”tanya suamiku lemah

“berdoa aja mas, supaya itu tidak terjadi, tapi ingat, jodoh, mati, rezeki hanya Allah yang tau”kataku

“kasian istri dan anaknya ya rin, kalau sampai pak winarno meninggal”kata suamiku. Aku mengangguk.

“ayo kita lebih baik shalat tahajjud dulu, ini masih jam 3”kataku. Kami mengambil wudlu dan tahajjud bersama. Di akhir rakaat witir, kami sujud lama sekali, sama-sama berdoa agar ujian ini lekas berakhir.

 

 

 

Selasa, 12 November 2010

Pukul 07.00 wib

Aku selelsai mengecek pasien, suamiku masih tertidur. Selepas shalat shubuh dia tidur kembali. Akhirnya aku tiba di ruangan bu rahma. Dia tak terseyum saat aku mendekatinya. Tebakanku, dia sudah tau yang sebenarnya.

“bagaimana kedaan ibu sekarang?sudah enakan?’tanyaku ramah

“masih sedikit sakit di tungkai tangan dok. Ternyata yang menabrak kami adalah suami dokter ya?”suara bu rahma, pelan tapisedikit sinis

“saya bukan bermaksud menyembunyikan bu, tapi saya fikir ibu butuh waktu untuk istirahat semalam. Sekarang saya kesini untuk menjelaskan.”

“saya tau bahwa ini musibah, bu. Tidak ada yang merencanakan kecelakaan ini. Tidak suami ibu, tidak suami saya. Dengan izin Allah lah, ini semua terjadi. Bila dirunut kembali kejadian dari awal, menurut keterangan saksi dan menurut suami saya, mereka yang sama-sama akan menyebrang, bahkan tidak tau ada motor yang melintas dari arah kanannya, karena saat itu gelap, dan suami ibu tidak menyalakan lampu.Suami saya telah mencoba menge-rem. Tapi terlambat, spakboard motor suami ibu, sudah menabrak ban depan mobil suami saya. Dan kalau saja, saat itu bapak memakai helm dengan baik, mengaitkannya, maka helm itu tetap terpasang di kepalanya saat bapak terloncat dari motornya. Dan kalau saja helm itu ada, mungkin cedera di kepalanya takkan separah ini. Sampai disini, ada yang salah dengan pernyataan saya?” aku mencoba mengedepankan rasio yang selalu kupakai. Tak ingin terlihat suamiku begitu bersalah karena memang begitulah adanya. Kulihat bu rahma menggeleng lemah.

“kalau begitu, kita sepakat bahwa ini murni kecelakaan yang tidak direncanakan, dan kecelakaan ini murni karena kelalaian. Baik suami saya, maupun suami ibu. Keduanya tidak ada yang harus diperslahkan. Kalau ibu mau membawa kasus ini ke kepolisian, silakan saja, kami tidak takut bu. Hanya saja rasanya menurut saya, bila kita memecahkan masalah ini dengan kekeluargaan, maka segalanya akan jaug lebih mudah. Saya dan suami berjajni untuk membiayai pengobatan bapak, ibu dan putra ibu. Apabila kompensasi masih dirasa kurang, maka hal tersebut bisa ibu katakan. Seberat dan sebesar apapun kompensasinya, insya Allah kami usahakan. Kami bukan orang yang tidak bertanggung jawab bu”akhirnya aku menutup pidato panjangku.

“tadi malam, kami baru pulang dari rumah kakak suami saya. Suami saya orangnya keras, dok. Kalau ada maunya harus dituruti. Padahal hari sudah malam, kakak ipar saya menyuruh untuk menginap saja, tapi suami tetap ingin pulang. Bahkan saat itu Rifki sudah tertidur, malah dibangunkannya. Ketika dijalan, saya sudah bialang pada suami untuk tidak ngebut, karena lampu motor mati dan belum diganti. Firasat saya sungguh tidak enak malam itu. Apalagi suami saya yang suka ngebut dijalan apalagi malam hari. Dan entah mengapa, saya tidak menegurnya saat ia mengenakan helm dengan asal, tanpa diakaitkan. Padahal biasanya saya yang paling cerewet. Mungkin itu tanda-tanda orang mau celaka ya”

“saya tidak akan meminta apa-apa bu, hanya saya minta, selamatkan suami saya. Saya belum siap untuk menjadi janda. Sehari-hari saya menjadi buruh cuci untuk menambah-nambah pendapatan suami saya yang hanya bekerja sebagai tukang ojeg. Usia anak saya belum genap 5 tahun. Kasian hidupnya kalau kehilangan ayahnya” bu rahma menatapku dengan tatapan memohon.

“kami akan usahakan semampu kami bu, kita hanya bisa berdoa dan pasrah. Ibu harus yakin pada kekuatan Allah. “kataku sambil menggenggam tangannya yang dingin

“ tolong suami saya ya dokter” katanya penuh harap. Aku tersenyum.

Pukul 08.30

Aku sudah berada di rumah. Suamiku melanjutkan tidurnya, aku memasak makanan sebentar, mandi. Lalu menyusul suamiku yang sedang berbaring. Hari-hari kedepan mungkin akan menjadi hari yang sangat sulit bagi kami.Suamiku menatap dengan wajah yang setengah mengantuk, rambut dan wajahnya sama-sama kusut.

“berapa persen tingkat keberhasilan operasi kepalanya itu nda?”tanya suamiku saatv kubilang bahwa pak winarno akan segera dioperasi, karena ada perdarahan di otak nya.

“ngga bisa dipersenkan. Kalau kita bilang ada kemungkinan 10 % berhasil, tapi Allah bilang 100% sembuh, gimana?”kataku sambil tersenyum

“aku serius nda”kata suamiku

“Dokter bilang 50-50 mas. Sekarang mas mandi dulu deh biar segar. Abis itu kita makan. Aku masakin capcay kesukaan mas”kataku bersemangat

“aku ga mau makan,nda”

“kalau nggak makan, nggak akan dapat tenaga. Terus nanti sakit”kataku setengah mengancam

“iya..iya..”katanya sambil ngeloyor pergi

“I love you bunda arin”sambil berteriak dari kamar mandi

“I love you too”kataku

Sambil menunggunya mandi, aku mulai membuka kado yang diberikan oleh suamiku sayang. ternyata isinya Baju tidur yang sangat transparan dan tipis. Warnanya hitam. Warna kesukaanku. Segerab kukenakan baju itu. Rasanya begitu lembut dan pas di tubuhku.

Suamiku selesai dari mandi dan keluar. Menatapku dengan pandangan takjub dan menggoda.

“suka sayang?”tanyanya

“suka banget sayang. maksi ya”kataku sambil berjinjit mencium pipinya

Kami saling menatap. Dia mengedipkan mata. Aku tau arti isyarat itu. Dan selera maka pun hilang seketika.

Pukul 14.00 wib

Aku terbangun karena suara handphone ku. Ternyata dari rumah sakit. Operasi pak Winarno berjalan lancar. Kini, pak winarno dipindahkan ke HCU untuk mendapat perawatan lanjutan. Aku bangun, mandi lalu membangunkan suamiku. Selesai shalat, terasa perut mulai minta diisi, kami pun segera makan. Suamiku gembira nampaknya mendengar kabar ini. Dengan hati yang sedikit lega, kami memutuskan untuk ke rumah sakit.

Kami memutuskan untuk mengunjungi bu rahma, si kecil rifki, dan tentu saja, pak winarno. Saat sudah tiba di HCU. Karena tidak sembrangan orang boleh masuk, maka suamiku memilih untuk menungu diluar. Aku pun masuk ke ruangan hcu.

“siang..gimana kabar pasien winarno?”tnyaku pada seorang perawat yang berjaga.

“ masih belum sadar dok. Tapi secara umum, cukup baik”kata perwat itu.

“yasudah, terimakasih ya. Tolong beritahu bila ada perkembangan”

“nitip pasienku ya” kataku sambil senyum

“siap dok”

***

Senin 18 November 2010

Kami masih mencium bau tanah merah yang masih basah diguyur hujan. Acara pemakaman tadi sungguh dipenuhi isak haru. Bu Rahma tak kuasa menahan tangis. Dengan si kecil Rifki dalam gendongannya yang tampak bingung. Hujan mengguyur Jakarta sejak subuh. Pukuk 6 tepat, pak winarno akhirnya meninggal dunia. Setelah dinyatakan baik-baik saja pasca operasi otaknya, kondisi tubuhnya mulai bergerak kea rah kristis sehari setelah operasi. Selama hampir seminggu, rumah sakit tak ubahnya menjadi rumah bagiku dan suamiku. Setelah jaga di UGD, maka aku akan menunggui pak winarno atau bercengkrama dengan bu rahma dan si kecil rifki yang masih tak mengerti apa-apa. Begitupula Mas Fadil, setelah selesai ngantor, ia akan ke rumah sakit untuk menemani mereka. Semenjak dinyatakan kritis, kami semua terfokus pada pak winarno. Hingga jantung beliau berhenti berdetak, beliau bahkan belum pernah bangun sekalipun. Kondisi ini membuat bu rahma sangat sedih. Aku dan suamiku terus menemaninya hingga ia dapat menerima kenyataan bahwa kini suaminya telah meninggalkan kami semua. Rasanya ini bukan sekedar dari rasa tanggung jawab yang sangat besar pada diri kami, tapi ini lebih karena aku dan suamiku mulai menganggap bu rahma dan rifki seperti saudara kami. Kebersamaan kami dalam musibah ini membuat kami semakin kuat. Tidak ada kemarahan kami atas takdir Tuhan. Kami semua pergi ke pemakaman dengan perasaan sedih namun pasrah. Ya Allah..tempatkanlah ia bersama orang-orang yang Kau muliakan..semoga Engkau menerima amal baiknya…

Perjalanan sepulang dari pemakaman tak ubahnya seperti berada dalam pemakaman itu sendiri. Semua orang berhenti bicara bahkan membisu. Sibuk dengan fikirannya sendiri. Bahkan si kecil rifki yang biasanya tak berhenti mengoceh, tampak tenang di pangkuan bunda nya. Bu rahma sendiri masih asik menikmati suasana Jakarta yang basah, dari kaca mobil. Suamiku akhirnya memecah keheningan.

“rifki mau main nggak?”tanya nya pada si kecil, sambil memandang dari kaca depan.

“om punya tiket masuk ke dufan loh..mau main nggak?”padahal aku tau dia bahkan takkan punya waktu untuk beli tiket.

“mau..mau om….”kata si kecil dengan antusias.semua orang tersenyum.

Pukul 10.00

Kami akhirnya masuk ke dufan. Hari itu dufan nampak sepi tak seperti biasanya, mungkin karena bukan di hari libur. Dengan lincahnya rifki kesana kemari dengan om nya. Mereka tampak sangat antusias. Entah mengap, aku seperti memiliki firasat bahwa Mas Fadil  tengah berusaha untuk menggantikan peran ayah bagi Rifki. Dia selalu PDKT pada Rifki, sehingga kini mereka benar-benar akrab. Aku berusaha menepis pkiran-pikiran buruk itu dengan mencoba tersenyum pada mereka. Bu rahma nampak sedikit ceria dari biasanya.mungkin gembira melihat anaknya tertawa-tawa. Banyak wahana yang kami naiki, aku sendiri memilih untuk duduk melihat mereka bertiga bermain dalam kora-kora dan wahana lain. Entah mengapa, ada kecemburuan dalam hatiku, melihat cara suamiku mengajak bu rahma dan si kecil rifki untuk ikut dengannya, saat mereka bertiga duduk bersama, terlihat seperti keluarga yang lengkap. Andaikan yang duduk disana adalah aku, mas Fadil dan anak kami. Mungkin aku akan merasakan keceriaan yang sama seperti mereka. Aku sedih, sebagai seorang perempuan, aku merasa belum lengkap,sebelum menjadi ibu. Mas Fadil terus memandangiku, seperti bertnya : Bunda knapa? Aku menggelengkan kepala, dan tersenyum lebar. Tak ada yang boleh tau kesedihanku.

Pukul 14.00

Kami akhirnya tiba dirumah. Setelah menidurkan Rifki di kamar tamu, aku juga menyuruh bu rahma untuk istirahat. Si kecil rifki nampak kelelahan setelah bermain, saat di perjalanan, dia minta pindah tempat duduk. Ingin dipangku olehku, akupun segera memangkunya. Bu rahma tampak tak enak dan ingin melarang. Tapi segera kutenangkan.akhirnya si kecil tertidur di pangkuanku.kukecup dahinya dan kuusap tubuhnya. Ya Allah..aku ingin punya anak. Mas Fadil memandangiku sambil tersenyum. Dia lalu mengecup dahiku sebentar, kemudian mulai focus menyetir kembali.

Kutinggalkan bu rahma dan si kecil rifki di kamar tamu. Kemudian aku mulai memasak di dapur. Terasa ada yang memeluk pinggangku. Aku dibuatnya kaget.

“masya Allah mas..kaget aku”kataku

“hehe..abis bunda ngelamun terus sih. Darotadi di dufan juga ngelamun terus. Ada apa bunda sayangku?”tanya mas fadil sambil mengecup tengkukku.

Aku diam sejenak, menarik nafas sejenak.haruskah kuberitau kecemburuanku akan perhatiannya pada bu rahma dan rifki?haruskan kuberitahu bahwa aku sangat sedih karena belum bisa memberinya anak?haruskah?aku terus berfikir. Rasio ku berkata Ya. Sebab bila tidak, aku seolah memendam api dalam sekam hal ini takkan baik bagi hubungan kami. Aku berbalik untuk berbicara padanya, memadang wajahnya.  Dia sangat lelah ya ampun. Dibawah matanya ada lingkaran tanda ia kurang tidur, khawatir, shock karena kejadian ini.musibah ini membuatnya tak memiliki banyak pilihan untuk lari. Ini hanya bentuk rasa bertanggung jawabnya. Aku tak boleh egois.dia sangat memerlukan bantuanku untuk tetap mendukungnya.

“mas fadlku sayang..tak ada yang aku fikirkan. Aku hanya masih sedih saja dengan musibah ini sayang. apalagi sekarang pak winarno meninggal. Kasian rifki”kataku sengaja menggantungkan kalimat

“iya bunda. Makanya mas berusaha untuk menjadi om yang baik untuknya, bukan menggantikan peran ayahnya, karena tempat pak winarno itu sudah ada dalam hatinya.mas hanya ingin menghiburnya, ingin menjadi teman yang baik untuknya yang bisa menghapus rasa sedihnya.”

Mendengar kata-kata suamiku, hatiku bersyukur tak jadi mengatakan tentang apa yang akan kufikirkan tentangnya.dia masih suamiku ayng baim dan shaleh. Dia masih mencintaiku. Bagaimana bisa aku berfikir bahwa ia akan mencoba menggantikan peran ayah bagi rifki dan menjadi suami bu rahma. Aku menatapnya sambil tersenyum. Kupeluk tubuhnya. Kami berpelukan lama ekali.

15.30

Setelah rifki bangun, bu rahma yang juga tertidur nampaknya, ikut bergabung bersma kami di ruang tengah. Aku dan mas fadil sedang menonton acara fvorit kami: Film Kartun.rifki melompat-lompat gembira di sofa. Kami tertawa melihat tingkahnya. Bu rahma menyuruhnya duduk. Ia pun akhirnya duduk. Sebentar kemudian

“tantee..aku lapeer”katanya polos

Kami semua tersenyum padana. Anak yang tampan. Lucu sekali.

“iya sayang.tante udah masak kok. Ayo kita makan y..bu ayo kita makan dulu”ajakku yang melihat bu rahma nampak enggan makan.mungkin malu. Akhirnya bu rahma mengekor juga dibelakang rifki. Aku masak semur ayam kesukaan Mas Fadil. Si kecil ternyata sangat lapar.karena makannya sangat lahap. Setelah kenyang, ia meminta om nya untuk menemani bermain di taman.

Aku beringsut untuk memebreskan semua piring, bu rahma mengekorku.kami membersihkan sisa-sisa makanan dan aku mulai mencuci piring.

“dokter nggak punya pembantu?”tanyanya.aku menoleh sebentar

“iya semenjak kami menikah, kami tak punya pembantu, bu. Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan”kataku

“kalau gitu biar saya bantu dokter. Saya nggak punya kerja bu. Biasanya saya hanya membantu suami dengan menjadi buruh cuci. Itupun hasilnya tak seberapa bu. Apalagi sekarang suami saya sudah tidak ada” bu rahma makin menundukkan pandangannya. Iba rasanya hatiku melihatnya.

“ibu tak usah khawatir, aku dan suami akan mencarikan solusi bagi masalah ibu. Yang penting sekarang ibu harus yakin pada Allah.Yakin Dia akan memberikan jalan pada kita. Nanti kita bicara lagi ya”kataku. Aku tak ingin membuat keputusan yang tak melibatkan pendapat suamiku. Menjelang magrib, bu rahma dan si kecil ingin pulang. Aku dan mas fadil mengantar hingga ke depan rumahnya.

18.20

Setelah selesai shalat berjamaah, kami mengambil mushaf Al-Quran. Membaca Al Quran sangat menenangkan hatiku. Selesai membaca Al-Qu’ran suamiku mengadap kearahku. Kami bertatapan lama sekali.

“aku bingung memikirkan solusi bagi bu rahma, nda”katanya. Wajahnya nampak bingung dan lelah.

“aku tak sampai hati membayangkan rifki kecil akan menaggung kesedihan nya hingga besar. Tak ada lagi ayah yang akan menyertainya saat ujian sekolah, mengantar, menjempuntya, ayah yang akan membanggakannya saat ia lulus ujian sekolah kelak”

“tapi bukan salah Mas, Pak Winarno meninggal. Itu semua kecelakaan. Itu bukan salah mas. Apapun yang kita lakukan sekarang sudah cukup untuk membayar tanggung jawab itu. Kita membiayai biaya penobatan mereka, membiayai operasi pak winarno. Bahkan aku sudah ikhlas Mas mengambil semua uang tabungan kita. Itu sudah cukup mas. Kita mau apa lagi?”kataku. aku merasa bahwa suamiku akan mengambil langkah yang lebih jauh dari sekedar tanggung jawab.entah aku suudzan atau apa.

“kita bisa mempekerjakan bu rahma disini mas. Kita bisa menyekolahkan rifki, kita akan menanggung kehidupan mereka berdua. Itu kalau baru mas anggap cukup”kataku

“berhentilah untuk berfikir bahwa Ma penyebab kematian Pak Winarno. Allah yang memiliki kehendak tertinggi atas umatNya. Atas kehendak Nya lah semua ini terjadi. Mas ngerti kan?”aku tak bisa menahan tangis

“apa mas fikir dengan menikahi Bu rahma dan menjadi ayah pengganti bagi Rifki akan memebuat hidup mas tenang dan melepas ssemua beban tanggung jawab yang sekarang ini mas pikul?”

“Demi Allah bunda..demi Allah. Apa yang membuat bunda berfikir hal itu?tak ada niat untukku menjadi suami bu rahma dan mnjadi ayah pengganti rifki. Kita disini memikirkan solusi terbaik untuk mereka. Bukan malah membuat suasana jadi tidak menyenagkan karena prasangka bunda yang berlebihan dalam menilaiku” aku melihatnya marah. Wajahnya merah padam. Mengapa aku tak bis amengontrol ucapanku. Aku hanya terlalu takut kehilangannya. Mas Fadil keluar dari mushala rumah kami, tanpa menoleh lagi. Aku hanya mematung, sebelum akhirnya terisak-isak.

Kemarahan mas fadil padaku lebih karena aku tidak berusaha memahami isi hatinya dan tak mengerti keinginannya untuk membantu keluarga bu rahma. Hanya saja, aku menjadi seorang yang amat sensitive dan peka perasaannya sehingga berfikir bahwa bentuk tanggung jawab yang mas fadil inginkan adlah menikah dengan bu rahma. Entah kenapa aku berfikir begitu. Saat aku memasuki kamar, aku melihat mas fadil tidur membelakangiku, ingin sekali aku memeluknya tapi kuurungkan. Aku pun berbaring. Tubuhku terasa sangat letih dan lelah. Akhirnya mas fadil memelukku.tenang dan hangat sekali hati ini. Tandanya dia sudah tidak marah lagi. Aku terisak pelan dalam diam.

18 Desember 2010

Hari bahagiaku akhirnya tiba. Setelah beberapa kali aku hampir pingsan karena muntah yang berebihan setiap pagi hari saat bangun tidur, maka aku memutuskan untuk membeli test pack. Walau awalnya hanya ada satu garis disana, akhirnya muncul garis kedua disana. Ingin rasanya aku sujud syukur saat itu juga. Alhamdulillah aku akhirnya positif hamil. Segera kukatakan pada mas fadil, bahwa aku muntah-muntah karena aku hamil. Akhirnya penantian 4 tahun kami terbayar. Alhamdulillah ya Rabb. Di tengah masalah yang kuhadapi, ditengah masalah keluarga kami Kau hadirkan seseorang yang kami sangat tunggu kehadirannya..terimakasih ya Rabb..aku berjanji akan menjaga bayi ini dengan sebaik-baiknya..

21 desember 2010

Tepat 1 bulan pak winarno meninggal. Aku dan mas fadil datang ke rumah bu rahma untuk mengikuti pengajian dalam rangka 1 bulan meninggalnya pak winarno. Selesai mengaji, aku dan mas fadil akhirnya mengobrol dengan bu rahma. Kuutarakan keinginan kami untuk membantu bu rahma dengan membangunkannya sebuah warung lengkap dengan isinya untuk menjadi modal bu rahma menyambung hidupnya dan si kecil rifki. Kami juga berjanji untuk menyekolahkan rifki hingga kuliah nanti, walau itu artinya tabungan kami akan terus menyusut, tapi aku percaya pada Allah sebagai pemebri rizqi. Bu rahma menatap kami dengan tatapan yang tidak terdefinisikan. Mungkin haru, mungkin kesal, entah apa. Namun semerta-merta bu rahma memeluk erat tubuhku.

“terimakasih dokter..terima kasih sekali..”

Aku dan mas fadil hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah kami berdiskusi panjang lebar, akhirya aku dan suamiku memutuskan untuk membangunkan sebuah warung agar bu rahma memiliki penghasilan dan supaya tak terbebani masalah biaya sekolah rifki, maka kami memutuskan untuk menanggung biaya sekolahnya hingga selesai kuliah. Tentu saja itu tak murah. Tapi mungkin hanya inilah yang bisa kami lakukan untuk menebus semuanya.Ya Allah lapangkanlah jalan kami dalam mencari rizqi Mu. Ya Allah berilah kemudahan kepada kami dalam memecahkan setiap ujian kehidupan yang semerta-merta Kau berikan untuk menaikkan derajat keimanan kami. Amiin…

 

===========================The End=======================

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: